ADAB MURID KEPADA GURUNYA


Sesungguhnya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Begitu juga sebaliknya, kurang adab atau tidak beradab adalah alamat (tanda) jelek dan jurang kehancurannya. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karena kurangnya adab. (Madarijus

Salikin, 2/39)Di antara adab-adab yang telah disepakari adalah adab murid kepada syaikh atau gurunya. Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan kholifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408)

Berikut ini beberapa adab yang selayaknya dimiliki oleh penuntut ilmu ketika menimba ilmu kepada gurunya. Baca lebih lanjut

Iklan

40 Nasihat Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA


Berikut 40 point nasihat dari Khulafaur Rasyidin keempat, Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA, yang bersumber dari kitab Nahjul Balagh dan Al-Bayan Wattabyin. Semoga menjadi pelajaran berharga dan semakin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT, bil khusus bagi semua umat muslim. Baca lebih lanjut

Tabaruk dengan Ciuman Tangan


Gambar

Mencium tangan guru, orang tua atau para ulama merupakan hal yang mulia. Sebagai tanda rasa takdim kita kepada orang-orang yg layak dihormati.

Anas bin Malik ra: “Ku lihat mereka berebutan menciumi telapak tangan nabi Muhammad SAW dan menaruhkan telapak tangan Beliau di wajah mereka, lalu kuikuti perbuatan mereka maka ketika kutaruh tangan Beliau di wajahku maka kurasakan tangan itu lebih sejuk dari es, dan tidak ada sutra yang lebih lembut dari telapak tangan Beliau dan tidak ada wewangian yang lebih wangi dari harumnya keringat Beliau”.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW datanglah para tamu kepada Anas bin Malik ra, seraya bertanya : “adakah tanganmu ini menyentuh kulit Rasulullah saw?”, maka Anas bin malik berkata : “iya”, maka mereka mengambil tangan Anas dan menciuminya, demi mengambil berkah dari tangan yang bersentuhan dengan nabi Muhammad SAW. (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari).

Ini dasar boleh mencium tangan orang yang kita muliakan, seperti guru dan orang tua atau yg dituakan.

(Imam Nawawi).

9 Kemuliaan Sholat Tahajjud


Gambar

 

Rasulullah bersabda, “Barang siapa menjaga tahajjud dengan sungguh-sungguh, maka Allah memberinya sembilan kemuliaan (lima di dunia dan empat di akhirat).

Di dunia:
1. Allah jauhkan dari bencana
2. Tanda kesholehan memancar diwajahnya
3. Akan dicintai hamba Allah yang sholeh dan disegani manusia
4. Bicaranya jadi hikmah
5. Mudah faham Agama Allah.
Di akhirat:
1. Bangkit dengan wajah penuh cahaya
2. Mudah saat hisab
3. Seperti kilat menyambar saat melintas shirot
4. Menerima catatan amal dari sebelah kanan.

Subhanallooh…


Sumber: republikaonline

11 ORANG BERIMAN YANG MEMILIKI GELAR IBADURROHMAN


DALAM SURAT AL FURQON: AYAT 63-77, dijelaskan terdapat nama Ibadurrohman.

Siapakah mereka?

IBADURROHMAN ADALAH GELAR YANG DIBERIKAN KEPADA HAMBA-HAMBA ALLOH YANG AKAN MENDAPATKAN RAHMAT YANG PALING BESAR DI SISI ALLOH SWT DAN AKAN MENDAPATKAN DERAJAT-DERAJAT YANG PALING TINGGI YANG DIPEROLEH MEREKA DI SURGA KELAK.

MEREKA MEMILIKI SIFAT:

  1. TAWADHU (AYAT 63)
  2. KALAMUT THOYYIB (SELALU MENGUCAPKAN UCAPAN YANG BAIK) (AYAT 63)
  3. ORANG BERIMAN YANG SUKA TAHAJJUD DI MALAM HARI (AYAT 64)
  4. MERASA TAKUT AKAN SIKSA ALLOH (AYAT 65-66)
  5. SEDERHANA (MODERAT) DALAM BERINFAQ (AYAT 67)
  6. MENJAUHKAN DIRI DARI SIFAT SYIRIK (AYAT 68)
  7. MENJAUHKAN DIRI DARI MELAKUKAN PERBUATAN MEMBUNUH YANG DIHARAMKAN OLEH ALLOH SWT (AYAT 68)
  8. MENJAUHKAN DIRI DARI PERBUATAN ZINA (AYAT 68)
  9. MEJAUHKAN DIRI DARI BERSAKSI PALSU (AYAT 72)
  10. SENANG MENERIMA NASIHAT YANG BAIK (AYAT 73)
  11. SENANTIASA BERDO’A DAN BERMUNAJAT KEPADA ALLOH SWT (AYAT 74)

Semoga kita termasuk di dalamnya & diberikan keistiqomahan dalam beribadah serta mengharap ridho-Nya.

Aamiin…

Disarikan dari tausyiah Prof. DR. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

Spirit Qurban


Segala yang diciptakan Allah pasti memiliki tujuan agung. Tidak ada syariat yang ditetapkan kecuali ada hikmah dan maqasid syariah (tujuan) di baliknya. Di antara keutamaan penyembelihan kurban pada hari Nahar dan Tasyrik adalah: Pertama, pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah  SWT, Tuhan semesta alam.” (HR Abu Daud  dan at-Tirmizi).

Kedua, mendapat keridaan Allah. Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa dulu orang-orang jahiliyah berkurban dengan daging dan darah unta yang dipersembahkan untuk Ka’bah. Maka, para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Kita lebih berhak dalam berkurban.” Dari peristiwa ini turunlah ayat, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS al-Hajj [22]: 37).

Ketiga, menyembelih kurban adalah amalan yang paling dicintai Allah pada Hari Raya Idul Adha. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan orang-orang yang melaksanakan ibadah kurban. “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah  dari Bani Adam ketika Hari Raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban.” (HRTirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim).

Keempat, hewan kurban sebagai saksi di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah  hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir ke tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Kelima, mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu dari binatang yang disembelih. Hal ini merupakan penggambaran tentang betapa besarnya pahala berkurban. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Selain keutamaan di atas, kita juga mendapati spirit dalam berkurban. Adapun yang harus kita teladani dalam berkurban adalah pertama, menghidupkan sunah Nabi Ibrahim AS. Allah SWT berfirman, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS an-Nahl [16]: 123).

Kedua, belajar sabar dan taat menunaikan perintah Allah. Kisah antara Nabi Ibrahim dan Ismail AS menggambarkan nilai tersebut. (QS ash-Shaffat [37]: 102-111).

Ketiga, menebarkan kepedulian dan kasih sayang kepada karib kerabat dan umat manusia secara umum. Keempat, sebagai rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung. Seperti nikmat iman, nikmat Islam, kehidupan, kesehatan, dan keluasan rezeki. (QS 14:34). Empat spirit kurban ini bila diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa akan membawa kestabilan dalam semua segi kehidupan.

By: Achmad Satori Ismail

Siapakah Ulama?


سم الله الرحمن الرحيم. 

Orang yang paling takut kepada Allah adalah para ulama…
Ibarat lentera di tengah kegelapan malam, cahayanya sebagai penerang jalan, sehingga akan menghantarkan seseorang menuju keselamatan hingga tujuan. Namun jika cahayanya padam maka akan menjerumuskan seseorang terperosok ke dalam lubang, itulah ulama panutan umat…

Ulama merupakan orang yang telah Allah pilih sebagai penerus risalah nubuwah, mereka adalah pewaris para nabi yang akan membimbing umat menuju cahaya Allah. Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia sungguh telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Tirmidzi)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ini adalah kedudukan yang paling agung bagi orang yang berilmu. Para nabi adalah sebaik-baik hamba Allah, mereka mewariskan warisannya kepada generasi mereka, dan setiap yang diwariskan akan pindah kepada ahli waris, dan mereka adalah yang menempati kedudukan mereka (para nabi), tidak ada orang yang menduduki kedudukan para nabi kecuali para ulama. Maka mereka lebih berhak untuk mendapatkan warisan para nabi”.

Para salaf dalam mendudukkan para ulama dan masayikh sebagaimana penghormatan mereka kepada Rasulullah saw karena mereka adalah pewaris nabi, yaitu yang mewarisi ilmu dan sunnahnya.
Memang saat ini, banyak umat muslim yang terjebak dalam suatu kesalahan, yaitu antara ifroth (berlebihan) terhadap mereka sehingga tanpa sadar menyeretnya ke dalam kesyirikan, atau terlalu tafrith (meremehkan), sehingga menyebabkan enggan bahkan menolak kebenaran yang datang kepadanya.

Fenomena yang terjadi di masyarakat pada umumnya, mereka memandang bahwa orang yang kerap naik mimbar, sering ceramah, selalu menggunakan kopiah atau surban di kepalanya mereka itulah yang dianggap sebagai ulama, meskipun tidak jarang di antara mereka yang masih jauh dari nilai-nilai islam.
Tidakkah kita ingat perkataan Ibnu Mas’ud bahwa tidaklah dikatakan alim (berilmu) itu dengan banyaknya hafalan hadits, tetapi orang alim adalah yang khosyah-(rasa takut) nya kepada Allah tinggi.

Dr. Nasir bin Abdul Karim berkata, “Ulama adalah orang-orang yang mengetahui sekaligus memahami syariat Allah dan mengamalkannya, mereka mengikuti petunjuk al-qur’an dan as-sunnah serta salafus shalih”.

Antara Ulama Akherat dan Ulama Su’
Ulama adalah pewaris para nabi, tempat rujukan penyelesaian probematika umat serta sebagai tempat untuk menimba ilmu. Oleh karenanya seharusnya kita selektif dan berhati-hati dalam memilih mereka untuk kita jadikan rujukan dan tempat menimba ilmu. Karena tidak semua ulama itu memiliki orientasi akherat untuk memperoleh ridho Allah ta’ala. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengejar kemegahan dunia serta kedudukan di hadapan manusia, sehingga rela menjual ilmu mereka dengan harga yang murah. Mereka itulah kategori ulama su’ yang mesti kita jauhi.
Al-‘Alamah Ibnul Qayyim berkata, “Ulama su’ duduk di pintu-pintu jannah menyeru manusia dengan lisan lisan mereka dan menyeru manusia ke neraka dengan perbuatannya”.
Sedangkan ulama akherat adalah mereka yang tidak silau dengan gemerlapnya dunia, yang mereka harapkan hanyalah ridho Allah semata. Mereka adalah yang senantiasa ikhlas dalam berdakwah, hati-hati dalam berfatwa, mengamalkan ilmunya, zuhud terhadap dunia, tawadu’ serta tinggi khosyahnya kepada Allah ta’ala.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim dalam menghadapi golongan yang berani mengacuhkan para ulama? Pengacuhan terhadap para ulama sama saja dengan perremehan. Padahal, Setiap tafrith (peremehan) terhadap ulama berarti tafrith terhadap Rasulullah saw. Bukankah telah datang firman Allah ta’ala yang mengharamkan sikap peremehan terhadap harga diri dan martabat manusia secara umum, apalagi terhadap ulama dan Allah mengancam mereka dengan ancaman yang sangat keras. Rasulullah Saw bersabda;

مَنْ عَادَ لِيْ وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barang siapa memusuhi waliku, maka sesungguhnya Aku telah mengumumkan perang dengannya”. (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas berkata, “Barang siapa yang menyakiti ulama, maka sesungguhnya ia telah menyakiti Rasulullah saw dan barang siapa yang menyakiti Rasulullah saw maka sesungguhnya ia telah menyakiti Allah Ta’ala.”

Generasi salaf telah mencontohkan bagaimana bentuk hormat terhadap para ulama, namun fenomena yang terjadi hari ini berbeda jauh sekali, di mana banyak ulama yang masih hanif (lurus) -insya Allah- tidak lepas dari celaan dan dihujat serta dicap dengan sesuatu yang tidak semestinya. Dan yang membuat hati miris, ternyata hujatan dan celaan tersebut keluar dari lisan golongan tertentu tanpa merasa bersalah apalagi berdosa. Mereka dengan enteng menghujat para ulama hanya karena bukan satu golongan. Mereka menganggap bahwa kebenaran hanyalah milik golongannya saja, sedangkan selain mereka adalah golongan yang sesat yang pantas untuk dihujat Sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam ashobiyah (fanatisme) golongan.

Memang, zaman modern saat ini kerap merubah cara fikir atau cara pandang seseorang. Muslim sekalipun. Semakin maju suatu zaman, menandakan semakin maju pula cara fikir sesorang didalamnya. Namun disini, rasanya perlu ditekankan, bahwa ajaran syariat islam tak berubah meski seiring berkembangnya zaman. Tapi justru seharusnya, perubahan zaman yang seperti apapunlah yang harus tetap berpegang pada ajaran syariat islam yang bersumber dari Allah dan RasulNya.
Rasul Saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mencabut ilmu pengetahuan sekaligus sebagaimana mencabut nyawa manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila tidak ada lagi orang lain, maka umat manusia akan memilih pemimpin-pemimpin yang bodoh, ketika mereka ditanya, maka mereka memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan lalu mereka sesat menyesatkan. (HR. Bukhari Muslim).
Dan ini merupakan salah satu tanda akhir zaman,
Disinilah perlunya suatu pendekatan dakwah. Mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Memberikan kabar pada mereka betapa pentingnya peran ulama. Mengingatkan, bahwa mereka adalah pewaris para nabi, yang mewarisi ilmu dan sunahnya. Karena semaju apapun zaman, tak akan pernah bisa lepas dari peran para ulama.
Jika mereka,-golongan yang berani mengacuhkan para ulama-, mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya, taat pada perintahNya, mencintai Mereka, bagaimana mungkin mereka akan mengacuhkan para pewaris Nabi tersebut?
Dan Jika mereka menolak, dengan tetap tidak mengeksistansikan peran para ulama dan mengacuhkan mereka, maka tinggalkan! Rasul sendiri pun telah menyatakan perang pada kalangan yang memusuhi para walinya. Atau cukup adukan pada Allah SWT karena Rasulullah saw telah bersabda 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR Muslim dalam shohihnya. kitab Al Iman no 49]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta nasehat-menasehati dengan kebenaran dan dengan kesabaran” QS 103 (Al Ashr): 1-3.

Wallahua’lam
Moga Allah mengampuni setiap kesalahan ucapan dalam tulisan ini.