Berapakah Jumlah Ayat Dalam Al-Quran?


A (Non Islam): Al-Quran yang sekarang itu palsu. Katanya jumlah ayatnya 6.666 ternyata setelah dihitung hanya 6.236. Jadi jelas kitab yang kalian banggakan itu palsu karena banyak sekali ayat-ayat yang hilang. Kemana ayat-ayat tersebut? Pasti dikorupsi tuh

B(Muslim): Ulama-ulama dan Kyai-kyai Indonesia serta guru-guru pengajar keagamaan itu penipu, pembohong ummat, dari kecil saya sudah didoktrin bahwa ayat Al-Quran itu 6.666 ayat, ternyata saya hitung di mushaf saya hanya ada 6.236 ayat. Saran kepada Ummat Muslim jangan percaya kepada Ulama ataupun Kyai Indonesia, kita harus cek dan ricek semua. Kita gak boleh taqlid sama mereka, kita yang harus beriijtihad sendiri.

Termenung sejenak melihat kalimat yang dilontarkan oleh kedua tokoh itu, dan bertanya apa benar? Atau kita yang bodoh? Apa Ulama yang katanya lebih pintar dari kita telah menipu kita karena kebodohan kita? Kalau memang benar ayat Al-Quran itu hilang dan Al-Quran yang kita pegang tidak sama dengan yang diturunkan kepada Rasulullaah SAW berarti bohong juga dong bahwa Baca lebih lanjut

Iklan

Sholat Hadiyah untuk Mayit


Kematian bagi makhluk hidup adalah suatu kemestian. Meskipun berbeda cara dan penyebabnya sakit, tua, kecelakaan, dan seterusnya. Jasadnya pun, bisa dimana saja, atau musnah sama sekali tanpa bekas. Kematian lambat atau cepat adalah mutlak bagi makhluk termasuk manusia.

Manusia adalah makhluk yang terbebani tanggung jawab dalam hayatnya, terutama terhitung sejak baligh. Perbuatan manusia akan dibalas menurut baik dan buruknya. Pertanggungjawaban mereka akan dihisab kelak di hari Kiamat. Allah sebagai hakim yang adil, takkan keliru dalam menghitung dan mengadili amal setiap orang. Namun, sebelum pembalasan hari Kiamat, nikmat dan siksa kubur benar adanya. Manusia yang telah terpisah jiwa dari raganya, akan didatangi malaikat untuk pertanyaan tentang Tuhan, rasul, pedoman hidup dan seterusnya. Malaikat ini akan bersikap sesuai perintah, menyiksa dan memberikan nikmat bagi mayit.

Manusia kecuali para rasul, dalam hidupnya tak lepas dari dosa. Dosa inilah yang lalu mesti ditebus dengan siksa kubur oleh yang bersangkutan. Jerit pedih mereka yang sudah mati memang tak didengar oleh manusia yang hidup. Dalam keterangan Rasulullah, hanya hewan hidup lah yang mendengar jeritan mayit yang tersiksa. Mayit pun harus menanggung kelakuan buruknya di dunia. Mereka hanya bisa menerima siksa tanpa bisa melakukan sesuatu apapun.

Mengingat itu, kita yang masih hidup mesti mengambil satu langkah agar dapat meringankan siksa kubur mayit. Lebih istimewa lagi, kita lakukan terhadap orang yang kita kenal, cintai atau yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, orang tua, guru, atau kiai.

Diantaranya dengan memberikan hadiah kepada Baca lebih lanjut

Adzan Jum’at Dua Kali


Adzan shalat pertama kali disyari’atkan oleh Islam adalah pada tahun pertama Hijriyah. Di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khathab mengumandangkan adzan untuk shalat Jum’at hanya dilakukan sekali saja. Tetapi di zaman Khalifah Utsman bin Affan RA menambah adzan satu kali lagi sebelum khatib naik ke atas mimbar, sehingga adzan Jum’at menjadi dua kali.

Ijtihad ini beliau lakukan karena Baca lebih lanjut

MUJTAHID KESIANGAN


Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Akhir-akhir ini marak bermunculan sarjana “islamic studies” yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mujaddid (pembaharu) dengan misi merekonstruksi bangunan ritual amaliah yang kadung baku dan telah menjadi sebuah naluri ibadah bagi mayoritas umat Islam. Dengan bekal kemampuan membaca teks arabik dan seperangkat kitab rijâl al hadîts, mereka menelisik hadis-hadis yang dipakai landasan beramal oleh orang lain yang berbeda amaliah dengan kelompoknya. Saking sibuknya, sampai-sampai mereka lupa bahwa di antara hadis-hadis yang biasa dipakai oleh kelompoknya sendiri, juga tidak lepas dari cacat dan kekurangan.

Setelah selesai melakukan penelusuran rawi, kemudian membuat rumusan kesimpulan sendiri, lantas dengan gagahnya mereka berseru: Hadis-hadis ini daif, karena di antara rawinya ada yang mudallis ataumukhtalith atau munkar dan sebagainya, jadi amaliah yang berlandaskan hadis tersebut adalah bertentangan dengan sunah!

Bahkan tidak jarang secara tegas mereka menilainya sebagai amaliah bidah. Padahal di sisi lain, mereka memiliki pemahaman skriptural bahwa setiap bidah adalah sesat, dan setiap sesat adalah masuk neraka. Jadi secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa Baca lebih lanjut

Hukum “PDKT” Lewat Facebook atau HP


Salah satu hasil Bahtsul Masail Diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri 20-21 Mei 2009 lalu adalah tentang hukum penggunaan situs jejaring sosial Facebook.

Beberapa media massa sempat memberitakan bahwa forum ini mengharamkan Facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya. Ternyata tidak sesederhana itu.
Menurut Bahsul Masa’il, perubahan yang paling spektakuler dewasa ini adalah terciptanya fasilitas komunikasi ini yang menjadi tren hubungan muda-mudi (ajnabi) seperti telepon seluler (HP). Dengan adanya fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, Facebook, dan lain-lain. Jarak ruang dan waktu yang tadinya menjadi rintangan terjalinnya keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis nyaris hilang dengan hubungan via HP.

Lebih dari itu, nilai kesopanan dan keluguan seseorang bahkan ketabuan sekalipun akan sangat mudah ditawar menjadi suasana fair dan vulgar tanpa batas dalam hubungan ini. Tren hubungan via HP ini barangkali dimanfaatkan sebagai media menjalin hubungan lawan jenis untuk sekedar “main-main” atau justru lebih ekstrem dari itu.

Sedangkan bagi mereka yang sudah mengidap “syndrome usia,” hubungan lawan jenis via HP sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai media PDKT (pendekatan) untuk menjajaki atau mengenali karakteristik kepribadian seseorang yang dihasrati yang pada gilirannya akan ia pilih sebagai pasangan hidup atau hanya berhenti pada hubungan sahabat.

Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana hukum PDKT via HP (telepon, SMS, 3G, chatting, Friendster, Facebook, dan lain-lain) dengan lawan jenis dalam rangka mencari jodoh yang paling ideal atau untuk penjajakan dan pengenalan lebih intim tentang karakteristik kepribadian seseorang yang diminati untuk dijadikan pasangan hidup, baik sebelum atau pasca khitbah (pertunangan)?

Bahsul Masa’il menyatakan, komunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.

Mengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis seperti dalam deskipsi tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada azam (keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah.

Kitab-kitab rujukan: Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763,  Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 120, Is’adur Rafiq vol. II hal. 105, Al-Fiqhul Islamy vol. IX  hal. 6292, I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209, I’anatut Thalibin vol. III hal. 260, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra vol. I hal. 203, Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197.

Pertanyaan yang kedua, mempertimbangkan ekses negatif yang ditimbulkan kontak via HP (telepon, SMS, 3G, Chatting, Friendster, Facebook, dan lain-lain) dengan ajnabi (bukan muhrim), bisakah dikategorikan atau semakna dengan khalwat (mojok) jika dilakukan di tempat-tempat tertutup?

Menurut Bahsul Masa’il, kontak via HP sebagaimana dalam deskripsi di atas yang dapat menimbulkan syahwat atau fitnah tidak dapat dikategorikan khalwat namun hukumnya haram.

Nah, bagaimana menurut pandangan Anda?

Kitab-kitab rujukan: Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, Al-Qamus Al-Fiqhy vol. I hal. 122, Bughyatul Mustarsyidin hal. 200, Asnal Mathalib vol. IV hal. 179, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. IXX hal. 267, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 467, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. IV hal. 107-107, Hasyiyah Jamal vol. IV hal. 121, Is’adur Rafiq vol. II hal. 93, dan Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 121 I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209.

             http://www.republika.co.id

KONTROVERSI HUKUM CELANA DAN SARUNG DI BAWAH MATA KAKI (ISBAL)


Abah Isbal ngangkat sarung

APA ITU ISBAL ???

Isbal adalah memanjangkan kain (sarung, celana atau gamis, dsb) di bawah mata kaki.

BAGAIMANA HUKUMNYA ?

Nah, disinilah letak permasalahannya. Hukum mengenai masalah ini menjadi perdebatan yang tiada hentinya oleh kaum muslimin sendiri, bahkan masalah ini menjadi masalah yang sepertinya dijadikan hujjah untuk menjatuhkan saudara sesama muslim. Beberapa kelompok sibuk mencari dalil tentang isbal ini untuk menyerang kelompok muslim lainnya.

Dapat dipahami bahwa masalah isbal ini bisa menjadi sangat rumit jika saudara-saudara sesama kurang bijak dalam mensikapi ikhtilaf para ulama dalam menetapkan hukum isbal ini.

Dapat dikemukakan ikhtilaf para ulama mengenai masalah isbal yaitu:

1) Pendapat Ulama yang mengatakan Mutlak Haram.

Ada beberapa ulama yang memberi bahwa isbal itu hukumnya mutlak haram, tidak perduli isbal dilakukan dengan riya’ ataupun tidak, ulama-ulama tersebut mengutip hadist :

“Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka ” (HR Bukhari)

“Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

2) Pendapat Ulama yang mengatakan Haram jika diiringi Riya’.

Beberapa ulama yang memberi fatwa bahwa isbal haram jika diiringi dengan Riya’, mengutip hadist berikut :

Ucapan Nabi SAW kepada Abu Bakar As Shiddiq ra. ketika berkata: Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda : “Engkau tidak termasuk golongan orang yang melakukan itu karena sombong.” [HR Bukhari dan Muslim].

Ulama yang memberikan yang fatwa kedua ini salah satunya adalah Imam Nawawi. Imam Nawawi merupakan pengarang kitab mashur Riyadh As-Shalihin dan kitab Syarah (penjelasan) Shahih Muslim. Beliau adalah pengikut Madzhab Imam Syafi’i. Diantara pendapat Imam Nawawi mengenai isbal sebagai berikut :

Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a’lam.

Dan Khuyala’ (orang yang saat itu memanjangkan pakaiannya) adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, “Kamu bukan bagian dari mereka.” Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

BAGAIMANA MENYIKAPINYA ?

Perlu penyamaan persepsi masalah isbal adalah merupakan ikhtilaf para ulama dan bukan masalah yang disepakati oleh semua ulama (qath’i), demikian realitasnya. Pendapat dari ulama manapun patut kita hormati, kita dapat mencontoh perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i dalam memberi fatwa mengenai qunut shalat subuh. Imam Malik berpendapat bahwa qunut sholat subuh adalah Bid’ah, sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa qunut shalat subuh adalah Sunnah Muakkad yang apabila tidak dilakukan harus diganti dengan sujud syahwi.

Kedua ulama ini tidak saling mengklaim bahwa mereka yang paling benar atau menuduh salah satu dari mereka kafir atau sesat. Karena kapasitas dan keilmuan kedua ulama tersebut, maka tindakan dan perkataan mereka pun sangat bijak. Dikisahkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengimami shalat subuh para murid Imam Malik, maka saat itu Imam Syafi’i meninggalkan Qunut Shalat subuh.

Hal inilah yang patut dicontoh oleh umat muslim saat ini, daripada kita berdebat terhadap hal yang tidak ada habis-habisnya yang merupakan ikhtilaf ulama sampai saat ini dan saling menjatuhkan, lebih baik kita mempererat persaudaraan dan bersatu padu mengumpulkan kekuatan dalam membentengi umat dari musuh-musuh islam yang sebenarnya,

Wallohu a’lam bi murhodhi bi dzalik.,

….. Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir…… (QS Al-Maidah/5 : 54)

Ingatlah, dalam disiplin ilmu Tasawuf, seseorang tidak dapat menuduh orang lain (sesama muslim) kafir dan pasti masuk neraka walaupun kita bisa melihat tanda-tandanya dan “bunyi” di dalam hati kita ini sama halnya dengan merampas hak prerogatif Allah Swt. Karena, ini bisa dikategorikan riddah (murtad) atau keluar dari Islam secara lisan (ucapan). Na’udzubillah!.

Wallahu a’lam.


fazrinfauzia.wordpress.com