Kisi-kisi Pra-UAS Semester I


Assalamu’alaikum Wr., Wb.,

Bagi para santri Kampoeng Santri, berikut kisi-kisi materi untuk Pra-UAS Semester I Tahun Ajaran 2011-2012 yang insya Alloh akan diselenggarakan pada tanggal 25-29 November 2011:

KISI KISI PRA UAS

DTA & DTW KAMPOENG SANTRI AL IKHLAS

Jl. Karang Tineung Dalam No. 84 RT:01/ RW: 04 Kel. Cipedes, Kec. Sukajadi – Kota Bandung 40162

BIDANG STUDI: BAHASA ARAB

  1. Isim Alam (Kata benda di sekeliling kita)
    1. Nama-nama benda di ruang kelas
    2. Nama-nama hewan
    3. Nama-nama profesi
    4. Isim Nakiroh & Isim Ma’rifah
      1. Ciri Isim Nakiroh & Isim Ma’rifah
      2. Contoh kalimat Isim Nakiroh & Isim Ma’rifah
      3. Mubtada’ & Khobar
        1. Ciri Mubtada’ & Khobar
        2. Contoh kalimat mubtada’ & khobar
        3. Khobar Keterangan Tempat
          1. Hunaa (disini)
          2. Hunaaka (disana)
          3. Hunaalika (jauh disana)

 

BIDANG STUDI: TARIKH ISLAM

  1. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Alloh SWT
    1. Wahyu pertama Nabi Muhammad SAW
    2. Wahyu kedua Nabi Muhammad SAW
    3. Orang-orang yang pertama kali memeluk Islam
    4. Assaabiquunal awwaluun
    5. Dakwah Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu
      1. Dakwah Nabi Muhammad SAW secara sembunyi-sembunyi
      2. Dakwah Nabi Muhammad SAW secara terang-terangan
      3. Dakwah Nabi Muhammad SAW  hijrah ke Habsyi
      4. Keislaman Umar bin Khottob
      5. Embargo terhadap Kaum Muslimin
      6. Tahun duka cita
        1. Ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Tholib
        2. Ditinggal wafat oleh istrinya, Siti Khodijah
        3. Pergi ke Tho’if
        4. Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW

BIDANG STUDI: TAZWID

  1. Pendahuluan Ilmu Tazwid
    1. Pengertian Ilmu Tazwid
    2. Hukum mempelajari Ilmu Tazwid
    3. Hukum membaca Al Quran dengan menggunakan Ilmu Tazwid
    4. Makhorijul Huruf
      1. Pengertian Makhorijul Huruf
      2. Pembagian Makhorijul Huruf
      3. Huruf-huruf yang terdapat dalam setiap makhroj
      4. Sifatul Huruf
        1. Pengertian Sifatul Huruf
        2. Pembagian Sifatul Huruf
        3. Huruf-huruf yang termasuk ke dalam pembagian sifatul huruf
        4. Hukum Maad
          1. Maad Asli (Maad Thobi’i)

i.      Cara membaca Maad Thobi’i

ii.      Panjang Maad Thobi’i

iii.      Huruf-huruf Maad Thobi’i

iv.      Contoh Maad Thobi’i

BIDANG STUDI: FIQIH

  1. Niat
    1. Pengertian niat dalam Ilmu Fiqih
    2. Tempat & waktu niat
    3. Hukum mengucapkan niat
    4. Hadits tentang niat
    5. Wudhu
      1. Fardhu Wudhu yang terdapat dalam QS: Al Maidah ayat 6
      2. Hal-hal yang membatalkan wudhu
      3. Hal-hal yang haram dilakukan ketika bathal wudhu
      4. Sholat Sunnah
        1. Sholat Sunnah Rowatib

i.      Pengertian Sholat Sunnah Rowatib

ii.      Macam-macam Sholat Sunnah Rowatib

iii.      Pelaksanaan Sholat Sunnah Rowatib

  1. Sholat Sunnah Iidain (Sholat Dua Hari Raya)

i.      Niat sholat sunnah Idul Fitri & Idul Adha

ii.      Pelaksanaan Sholat Sunnah Idul Fitri & Idul Adha

iii.      Kaifiyat (tata cara) Sholat Sunnah Idul Fitri & Idul Adha

iv.      Hal-hal yang sunat dilakukan sebelum melaksanakan Sholat Sunnah Idul Fitri & Idul Adha

BIDANG STUDI: AQIDAH-AKHLAQ

  1. Iman kepada Para Malaikat Alloh
    1. Pengertian Iman kepada Para Malaikat Alloh
    2. Malaikat-malaikat yang wajib diketahui
    3. Tugas-tugas para malaikat Alloh
    4. Malaikat-malaikat lain yang tak terhitung jumlahnya
    5. Iman kepada Kitab-Kitab Alloh
      1. Pengertian Iman kepada Kitab-Kitab Alloh
      2. Kitab-kitab Alloh yang wajib diketahui
      3. Para Nabi dan Rosul yang menerima kitab-kitab Alloh
      4. Jumlah Kitab-kitab seluruhnya yang diturunkan Alloh
      5. Al-Quran sebagai penyempurna Kitab-Kitab Alloh
        1. Cara Al Quran diturunkan
        2. Lama Al Quran diturunkan
        3. Hikmah Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur
        4. Nama-nama Al Quran
        5. Adab-adab bertamu
        6. Adab-adab menerima tamu

TEST LISAN: HAFALAN DO’A-DO’A DAN SURAT-SURAT PENDEK

  1. Do’a-do’a sehari-hari
    1. Do’a masuk rumah
    2. Do’a keluar rumah
    3. Do’a-do’a wudhu

i.      Do’a sebelum wudhu

ii.      Do’a membasuh tangan sampai pergelangan

iii.      Do’a berkumur-kumur

iv.      Do’a menghirup air ke hidung

v.      Niat wudhu

vi.      Do’a membasuh muka

  1. Surat-surat pendek
    1. Surat Al-Alaq: 1-19
    2. Surat Al-Insyiroh: 1-8
    3. Surat Ad-Dhuha: 1-11
    4. Surat Al-Lail: 1-19
    5. Surat Asy-Syams: 1-15

Spirit Qurban


Segala yang diciptakan Allah pasti memiliki tujuan agung. Tidak ada syariat yang ditetapkan kecuali ada hikmah dan maqasid syariah (tujuan) di baliknya. Di antara keutamaan penyembelihan kurban pada hari Nahar dan Tasyrik adalah: Pertama, pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah  SWT, Tuhan semesta alam.” (HR Abu Daud  dan at-Tirmizi).

Kedua, mendapat keridaan Allah. Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa dulu orang-orang jahiliyah berkurban dengan daging dan darah unta yang dipersembahkan untuk Ka’bah. Maka, para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Kita lebih berhak dalam berkurban.” Dari peristiwa ini turunlah ayat, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS al-Hajj [22]: 37).

Ketiga, menyembelih kurban adalah amalan yang paling dicintai Allah pada Hari Raya Idul Adha. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan orang-orang yang melaksanakan ibadah kurban. “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah  dari Bani Adam ketika Hari Raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban.” (HRTirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim).

Keempat, hewan kurban sebagai saksi di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah  hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir ke tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Kelima, mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu dari binatang yang disembelih. Hal ini merupakan penggambaran tentang betapa besarnya pahala berkurban. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Selain keutamaan di atas, kita juga mendapati spirit dalam berkurban. Adapun yang harus kita teladani dalam berkurban adalah pertama, menghidupkan sunah Nabi Ibrahim AS. Allah SWT berfirman, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS an-Nahl [16]: 123).

Kedua, belajar sabar dan taat menunaikan perintah Allah. Kisah antara Nabi Ibrahim dan Ismail AS menggambarkan nilai tersebut. (QS ash-Shaffat [37]: 102-111).

Ketiga, menebarkan kepedulian dan kasih sayang kepada karib kerabat dan umat manusia secara umum. Keempat, sebagai rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung. Seperti nikmat iman, nikmat Islam, kehidupan, kesehatan, dan keluasan rezeki. (QS 14:34). Empat spirit kurban ini bila diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa akan membawa kestabilan dalam semua segi kehidupan.

By: Achmad Satori Ismail

Tiga Macam Orang yang Takkan Disapa Alloh SWT


Diriwayatkan dari hadis Imam Bukhari dan Muslim, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Tiga macam orang yang tak akan diajak bicara Allah pada hari Kiamat, dan tidak dilihat dengan rahmat-Nya, bahkan tidak dimaafkan dan tersedia bagi mereka siksa yang pedih, yakni: seseorang yang mempunyai kelebihan air di hutan, tiba-tiba tidak diberikan pada orang rantau yang berhajat padanya. Kedua, seseorang yang menjual barang dagangannya sesudah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambil barang itu sekian, dan dipercaya oleh pembeli, padahal ia berdusta. Ketiga, seorang yang berbaiat pada imam (pimpinan), ia tidak berbaiat kecuali untuk mendapatkan dunia (kekayaan), maka jika diberi ia menepati janjinya, jika tidak diberi (jabatan atau kekayaan) ia tidak menepati janjinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mencermati hadis tersebut, tiga golongan itulah yang akan merugi pada hari kiamat. Kenapa dikatakan merugi, karena hari kiamat adalah hari  dimana syafa’at (pertolongan) hanya akan diberikan atas izin-Nya.

Kembali ke tiga golongan tersebut, Pertama, Seseorang yang memiliki kelebihan air di hutan, namun ia enggan membagi kepada orang rantau yang meminta sedikit airnya. Golongan pertama diibaratkan seperti seseorang yang kikir untuk bersedekah. Ia tahu bahwa ada seseorang yang lebih membutuhkan apa yang ia miliki ketimbang dirinya sendiri. Namun sayangnya, ia enggan tak mau berbagi khawatir apa yang ia punya akan berkurang atau pun habis.
Rasulallah SAW bersabda, Aisyah RA berkata, “Ya Rasulallah, apakah sesuatu yang tidak boleh ditahan (ditolak yang memintanya). Jawab Nabi, “Air, garam, dan api,” (HR ibnu Majah).

Sabda Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa jika ada seseorang yang meminta air pada kita, dianjurkan untuk jangan pernah menolaknya, karena air adalah salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup manusia. Atau jangan pula ada di antara kita, bersedia memberi, lantas terus menerus mengungkit pemberiannya, padahal ia tahu sedekah yang seperti itu akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Seperti pada firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan pahala sedekahmu dengan mengungkit dan menganiaya (si pemberi), (orang yang demikian) bagaikan orang yang bersedekah hanya untuk dilihat orang, dan tidak terdorong oleh iman pada Allah dan hari kemudian. Maka, (orang yang berbuat demikian) bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian ditimpa hujan lebat, maka ia tetap keras lagi licin. Mereka tak mendapatkan apa-apa dari usaha mereka itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang kafir.” (Al-Baqarah: 264).

Dalam ayat ini Allah menerangkan syarat untuk diterimanya sedekah yakni harus bersih dari mengungkit dan hinaan. Muhammad Al-Bakri berkata, Siti Aisyah r.a terbiasa jika bersedekah pada seseorang, ia mengutus orang untuk menyelidiki orang yang disedekahi itu. Maka bila orang itu mendoakan Siti Aisyah, segera didoakan dengan doa yang sama, supaya jangan sampai doa itu sebagai imbalan sedekah itu, sehingga mengurangi pahalanya,” karenanya, para ulama berpendapat sunnah bagi seseorang yang bersedekah mendoakan orang yang disedekahi, sebagaimana doa orang yang disedekahi itu.

Maka, ada baiknya orang yang menerima sedekah, mendoakan untuk orang yang bersedekah sesuai dengan tuntunan Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Siapa yang diberi sesuatu, lalu berkata pada yang memberi, “Jazakallahu Khairan (Semoga Allah membalas padamu kebaikan), maka sungguh itulah sebaik-baik pujian,” (HR Tirmidzi).

Golongan kedua, seseorang yang menjual barang dagangannya sesudah ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambil (membeli) barang itu sekian, dan dipercaya oleh pembeli, padahal ia berdusta. Golongan kedua ini adalah sebagian orang yang bergelut dalam perniagaan dengan pesan moral yang terkandung adalah kejujuran.

Berdagang adalah pekerjaan yang sungguh mulia, mengingat profesi tersebut juga pernah dijalani oleh Rasulullah. Satu hal yang paling kita ingat adalah saat beliau meniagakan barang-barang milik istrinya, Siti Khadijah RA dengan modal jujur dan keramahan beliau, beliau meraup untung besar yang dengan keuntungan tersebut beliau serahkan seutuhnya pada Khadijah. Pesan yang kita ingat dalam kisah sukses Rasul dalam berniaga ini ialah Rasul memiliki tuntunan sendiri dalam berniaga, artinya tidak mengambil untung yang berlebihan apalagi sampai hati menipu pembeli. Karena, sedikit banyak untung yang kita ambil, itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.

Ketiga, seorang yang berbaiat pada imam (pimpinan), ia tidak berbai’at kecuali untuk mendapatkan dunia (kekayaan), maka jika diberi ia menepati janjinya, jika tidak diberi (jabatan atau kekayaan) ia tidak menepati janjinya. Golongan ketiga ini ialah golongan setia bersyarat pada pemimpin. Ia tunduk dan patuh pada pemimpin tanpa keikhlasan sebagaimana yang dianjurkan Allah dan Rasulnya. Ia hanya patuh dan mengakui kepemimpinan seseorang jika ia pun mendapatkan ‘bagian’ dari kepemimpinannya. Padahal, Allah mengajarkan kita semua untuk taat pada Allah, Rasul dan ulil amri (pemimpin).

Semoga Allah melindungi kita semua dari ketiga golongan tersebut. Sebab, jika Allah saja enggan melihat kita, lantas siapa lagi yang kuasa memberikan pertolongan di saat orang terdekat tak sanggup menolong?

Wallohu a’lam bishshowwab.

Source: Republika Online