Insentif Ribuan Guru Ngaji ‘Diusulkan’ Naik 100 Persen


DPRD Kota Malang mengusulkan kenaikan 100 persen insentif untuk ribuan guru ngaji pada pertengahan tahun 2011. Insentif naik dari Rp 37.500 per bulan menjadi Rp 75 ribu per bulan.

“Selama bertahun-tahun insentif guru ngaji ini hanya Rp 37.500/orang/bulan dan masih dipotong pajak, sehingga insentif bersih yang diterima hanya sebesar Rp35.625/orang/bulan,” kata anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Sutiaji, Jumat (29/7).

Kenaikan insentif tersebut diusulkan dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) 2011 oleh Komisi D DPRD Kota Malang yang membidangi masalah pendidikan dan kesejahteraan. Selain insentif guru ngaji yang diusulkan naik, insentif guru sekolah Minggu juga dinaikkan. Jumlah guru ngaji dan guru sekolah Minggu di Kota Malang mencapai 7.500 orang.

Pencairan insentif guru ngaji dan guru sekolah Minggu tahap pertama sudah dilakukan pada pertengahan Juli ini. Dari pencairan tahap pertama itu, Bagian Kesra Kota Malang sekaligus melakukan verifikasi data jumlah guru ngaji dan guru sekolah Minggu tersebut.

Lebih lanjut, politisi dari PKB itu mengatakan, sudah waktunya insentif guru ngaji maupun guru sekolah Minggu tersebut ada kenaikan demi peningkatan kesejahteraan mereka.

Bagaimana dengan di tempat Anda? Hmmm… masihkah diperhatikan ?? 🙂

Sumber: http://www.republika.co.id

Iklan

Bir yang Halal di Malaysia, Populer di Kuwait dan Dubai


Bir Barbican (rituntun.wordpress.com)

Majelis Fatwa Nasional Malaysia, semacam Majelis Ulama di Indonesia, menyatakan bir nonalkohol Barbican aman dikonsumsi Muslim. Majelis menyatakan, minuman ini tidak diproses untuk menghasilkan alkohol yang diharamkan dikonsumsi penganut Islam.

Kalau pun ada kadar alkohol rendah di dalamnya, hal ini tidak disengaja dan tidak meracuni, seperti dirilis Kantor Berita Bernama, Selasa 26 Juli 2011.

Ketua Majelis Fatwa Nasional Prof Emeritus Tan Sri Dr Abdul Shukor Husin menyatakan  Senin lalu, bahwa diskusi mengenai minuman yang populer di Timur Tengah ini sudah dilakukan pada 1984, 1987, 1988 dan 2010. Diskusi terakhir yang diselenggarakan antara 16 Juni sampai 18 Juni 2011, membahas alkohol di makanan, minuman dan obat-obatan.

Namun, Abdul Shukor menyarankan, Barbican menggunakan label yang lebih baik, bukan bir, sehingga kaum Muslim tidak dibingungkan.

Menurut Wikipedia, Barbican adalah bir yang nol alkohol. Produk ini populer di Timur Tengah seperti di Kuwait dan Dubai.

Sumber: http://www.vivanews.com

Syekh Abdul Qodir Jaelani


Nama Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani adalah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abi Shalih Zango Dost Al-Jaelani. Ia lahir di Jailan atau Kailan pada 470 H/1077 M, sehingga di akhir namanya ditambahkan kata Al-Jaelani atau Al-Kailani atau juga Al-Jiliydan.

Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu. Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut : Dari Ayahnya (Hasani):

Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdul Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW

Dari ibunya (Husaini): Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah Sum’i bin Abu Jamal bin Muhammad bin Mahmud bin Abul ‘Atha Abdullah bin Kamaluddin Isa bin Abu Ala’uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal ‘Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.

Dalam usia 8 tahun, Abdul Qodir sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada 488 H/1095 M. Ia tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang kala itu dipimpin Ahmad Al-Ghazali, menggantikan saudaranya Abu Hamid Al-Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khathat, Abul Husein Al-Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al-Mukharrimi.

Ia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad Al-Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj, menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihatnya. Banyak pula orang yang bersimpati kepadanya, lalu datang menimba ilmu hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Murid-murid Syekh Abdul Qodir banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al-Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syekh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal Al-Mughni.

Syekh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syekh Abdul Qodir sampai ia meninggal dunia.

Menurut Ibnu Qudamah, Syekh Abdul Qodir adalah seorang yang berilmu, berakidah Ahlus Sunnah, dan mengikuti jalan Salafush Shalih. “Beliau dikenal banyak memiliki karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tarekat (jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya,” kata Ibnu Qudamah.

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syekh Abdul Qodir Jaelani memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan sunnah.”

Beberapa karya Syekh Abdul Qodir Jaelani antara lain Al-Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq dan Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelisnya. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunah.

Syekh Abdul Qodir adalah seorang alim, salafi, sunni, namun banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas namanya. Sedangkan ia berlepas diri dari semua kebohongan itu.

Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah seorang ulama besar, yang juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar di dunia; Tarekat Qodiriyah.

Apabila sekarang ini banyak kaum Muslimin menyanjung-nyanjung dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajatnya di atas Rasulullah SAW, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah SAW adalah Nabi dan Rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan di sisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum Muslimin yang menjadikan Syekh Abdul Qodir Jaelani sebagai wasilah (perantara) dalam doa mereka, dan berkeyakinan Alloh SWT lah yang akan mengabulkan do’anya, adalah juga hal yang wajar mengingat beliau adalah ulama yg arif billah dan masyhur akan kekaromahannya. Tentunya tanpa terlalu mengkultuskan beliau melebihi Rosululloh Muhammad SAW.

Syekh Abdul Qodir Jaelani wafat Sabtu malam selepas Maghrib, pada 9 Rabiul Akhir 561 H/1166 M di daerah Babul Azaj, Baghdad.

Karya karyanya yang terkenal diantaranya :

  1. Tafsir Al Jilani
  2. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
  3. Futuhul Ghaib.
  4. Al-Fath ar-Rabbani
  5. Jala’ al-Khawathir
  6. Sirr al-Asrar
  7. Asror Al Asror
  8. Malfuzhat
  9. Khamsata “Asyara Maktuban
  10. Ar Rasael
  11. Ad Diwaan
  12. Sholawat wal Aurod
  13. Yawaqitul Hikam
  14. Jalaa al khotir
  15. Amrul muhkam
  16. Usul as Sabaa
  17. Mukhtasar ulumuddin

Sumber: http://www.republika.co.id

wikipedia

Muslim Jerman Mengelola Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Dunia


Islam adalah agama yang memuliakan lingkungan. Tak hanya dengan berceramah saja di mimbar, ulama dan Muslim di kota kecil Norderstedt, Jerman, menerjemahkannya dalam karya nyata: masjid ramah lingkungan.

Listrik masjid, dihasilkan dari energi terbarukan; pembangkit listrik mini bertenaga angin. Menara masjid, selain difungsikan sebagai ‘rumah’ pengeras suara, juga dipasang kincir angin yang tersambung dengan turbin pembangkit di bawahnya.

“Kami berpikir tentang bagaimana kita bisa menggabungkan elemen simbolis penting dari arsitektur religius dan memanfaatkannya dengan fungsi baru,” kata arsitek Selcuk Unyilmaz, seperti dimuat harian The National edisi Kamis.

Norderstedt adalah sebuah kota kecil dekat Hamburg. Muslim di kota ini sebagian besar beretnik Turki. Beberapa datang dari Asia dan Afrika.

Masjid ini memiliki dua menara. Artinya, akan ada dua turbin yang terpasang. Di atas dua menara setinggi 22 meter itu, angin ‘ditangkap’ oleh dua baling-baling besar. Turbin ini bertujuan untuk menghasilkan 30 persen dari kebutuhan energi masjid.

“Fungsi menara dalam pengertian klasik sudah surut di Eropa karena muadzin tidak menyuarak adzan mereka melalui pengeras suara lagi,”  kata Unyilmaz.

Menghemat dana, menara dimanfaatkan sebagai tiang kincir. Kini, jamaah menikmati listrik dengan gratis, karena tak perlu membayar biaya langganan.

“Lingkungan merupakan isu penting saat ini, jadi ini masuk akal,” kata Unyilmaz.

Kanselir Jerman Angela Markel telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan pangsa pembangkit listrik terbarukan untuk 80 persen tahun 2050, dari 17 persen yang ada saat ini. “Setiap warga Jerman memiliki kewajiban untuk melindungi lingkungan, dan menyukseskan program ini” kata Unyilmaz.

Jerman memiliki  4,3 juta Muslim,  sekitar 5 persen dari populasi yang total berjumlah 82 juta jiwa.

Ada sekitar 200 masjid yang saat ini dalam pembangunan atau yang sedang direncanakan di Jerman.Semua akan dibangun dengan konsep ramah lingkungan.

Muslim Jerman sekarang tengah mengumpulkan 2,5 juta euro yang diperlukan untuk pembangunan masjid. “Kita harus menutupi semua melalui sumbangan,” kata Ugur Sutcu, anggota dewan jemaat. “Jika kita berhasil menaikkan setengah, bank akan memberikan sisa pendanaan.”

Sutcu mengatakan bahwa masjid baru sangat didukung oleh minoritas Muslim. “Semua orang di sini senang dengan desain masjid ramah lingkungan,” katanya.

Masjid Norderstedt kerap dilihat sebagai bukti sukses integrasi Muslim di Jerman. “Di masa depan setiap orang akan tumbuh bersama, dan dalam 50 sampai 100 tahun kita telah lebih menjadi komunitas yang bersatu,” kata Unyilmaz, yang telah tinggal di Jerman selama 35 tahun terakhir.

Sumber: Guardian

Hukum “PDKT” Lewat Facebook atau HP


Salah satu hasil Bahtsul Masail Diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri 20-21 Mei 2009 lalu adalah tentang hukum penggunaan situs jejaring sosial Facebook.

Beberapa media massa sempat memberitakan bahwa forum ini mengharamkan Facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya. Ternyata tidak sesederhana itu.
Menurut Bahsul Masa’il, perubahan yang paling spektakuler dewasa ini adalah terciptanya fasilitas komunikasi ini yang menjadi tren hubungan muda-mudi (ajnabi) seperti telepon seluler (HP). Dengan adanya fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, Facebook, dan lain-lain. Jarak ruang dan waktu yang tadinya menjadi rintangan terjalinnya keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis nyaris hilang dengan hubungan via HP.

Lebih dari itu, nilai kesopanan dan keluguan seseorang bahkan ketabuan sekalipun akan sangat mudah ditawar menjadi suasana fair dan vulgar tanpa batas dalam hubungan ini. Tren hubungan via HP ini barangkali dimanfaatkan sebagai media menjalin hubungan lawan jenis untuk sekedar “main-main” atau justru lebih ekstrem dari itu.

Sedangkan bagi mereka yang sudah mengidap “syndrome usia,” hubungan lawan jenis via HP sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai media PDKT (pendekatan) untuk menjajaki atau mengenali karakteristik kepribadian seseorang yang dihasrati yang pada gilirannya akan ia pilih sebagai pasangan hidup atau hanya berhenti pada hubungan sahabat.

Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana hukum PDKT via HP (telepon, SMS, 3G, chatting, Friendster, Facebook, dan lain-lain) dengan lawan jenis dalam rangka mencari jodoh yang paling ideal atau untuk penjajakan dan pengenalan lebih intim tentang karakteristik kepribadian seseorang yang diminati untuk dijadikan pasangan hidup, baik sebelum atau pasca khitbah (pertunangan)?

Bahsul Masa’il menyatakan, komunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.

Mengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis seperti dalam deskipsi tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada azam (keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah.

Kitab-kitab rujukan: Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763,  Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 120, Is’adur Rafiq vol. II hal. 105, Al-Fiqhul Islamy vol. IX  hal. 6292, I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209, I’anatut Thalibin vol. III hal. 260, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra vol. I hal. 203, Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197.

Pertanyaan yang kedua, mempertimbangkan ekses negatif yang ditimbulkan kontak via HP (telepon, SMS, 3G, Chatting, Friendster, Facebook, dan lain-lain) dengan ajnabi (bukan muhrim), bisakah dikategorikan atau semakna dengan khalwat (mojok) jika dilakukan di tempat-tempat tertutup?

Menurut Bahsul Masa’il, kontak via HP sebagaimana dalam deskripsi di atas yang dapat menimbulkan syahwat atau fitnah tidak dapat dikategorikan khalwat namun hukumnya haram.

Nah, bagaimana menurut pandangan Anda?

Kitab-kitab rujukan: Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, Al-Qamus Al-Fiqhy vol. I hal. 122, Bughyatul Mustarsyidin hal. 200, Asnal Mathalib vol. IV hal. 179, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. IXX hal. 267, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 467, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. IV hal. 107-107, Hasyiyah Jamal vol. IV hal. 121, Is’adur Rafiq vol. II hal. 93, dan Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 121 I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209.

             http://www.republika.co.id