HUKUM MENJUAL KULIT HEWAN QURBAN


Menjual Kulit Hewan Kurban, Apa Hukumnya? 

Hewan kurban

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Mengumpulkan dan menjual kulit hewan kurban untuk kepenting an madrasah dan mushala biasanya kerap dilakukan panitia kurban. Secara sengaja, kulit hewan kurban tak dibagikan kepada mustahik (orang yang berhak atas kulit tersebut), namun dikelola panitia kurban untuk dijual dan uangnya digunakan bagi kepentingan umat.

Kebiasaan itu pun sering mengundang pertanyaan, bolehkah hal itu dilakukan? Terkait masalah ini, Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Ulama Nahdlatul Ulama (NU) dalam Muktamar ke27 di Situbondo, Jawa Timur, pada 1984 telah menetapkan fatwa terkait boleh tidaknya mengumpulkan dan menjual kulit hewan untuk kepentingan sarana ibadah dan madrasah.

Masalah itu telah disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa’id, “Bahwa Qatadah Ibnu Nu’man memberitakan bahwa Nabi SAW berdiri seraya bersabda, ‘Dulu saya memerintahkan kepada kamu sekalian agar kamu tidak makan daging kurban lebih dari tiga hari, untuk memberi kelonggaran kepadamu’.”

“Dan sekarang saya membolehkan kepada kamu sekalian, maka makanlah sekehendakmu; jangan kalian jual daging dam dan daging kurban. Makanlah dan sedekahkanlah serta gunakanlah kulitnya dan jangan kalian menjualnya. Sekalipun sebagian daging itu kamu berikan untuk dimakan orang lain, namun makanlah apa yang kalian sukai.” [HR Ahmad].

Majelis Tarjih PP Muhammadiyah dalam fatwanya menyatakan, para ulama telah bersepakat bahwa menjual daging kurban dilarang. Sedangkan, menurut ulama Muhammadiyah, penjualan kulitnya, di kalangan para ulama terdapat perbedaan pendapat.

“Jumhur (sebagian besar) ulama berpendapat tidak boleh menjual kulit hewan kurban (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Juz I, halaman 438),” demikian bunyi fatwa itu. Sedangkan, ungkap para ulama Muhammadiyah, menurut Imam Abu Hanifah boleh menjual kulit hewan kurban kemudian hasil penjualannya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat untuk keperluan rumah tangga (As-Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid III, halaman 278).

Sementara itu, kata ulama Muhammadiyah, para ulama dari Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa boleh saja menjual kulit hewan kurban, asal hasil penjualannya dipergunakan untuk kepentingan kurban (Asy-Syaukaniy, Nailul Authar, Juz V, halaman 206).

“Kami sepakat tidak boleh menjual daging kurban, karena memang tujuan disyariatkan penyembelihan hewan kurban, antara lain, untuk dimakan dagingnya, terutama untuk disedekahkan kepada fakir miskin,” demikian bunyi fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Namun, bagaimana sikap Muhammadiyah terhadap pengumpulan dan penjualan kulit hewan kurban? “Demikian pula terhadap penjualan kulitnya, pada dasarnya kami sepakat untuk tidak dijual sepanjang dengan membagikan kulit itu dapat mewujudkan kemaslahatan,” tutur ulama Muhammadiyah dalam fatwanya.

Meski begitu, kata ulama Muhammadiyah, dengan menyedekahkan kulit hewan kurban apalagi dengan membagi-bagikannya, kadang-kadang menimbulkan kesulitan untuk memanfaatkannya, bahkan bisa-bisa kulit hewan kurban itu tidak termanfaatkan, yang berarti justru memubazirkan harta, dan itu dilarang oleh agama.

“Memang ada kemungkinan kulit hewan kurban itu ditukar dengan daging kepada para pedagang daging. Jika hal ini mungkin dapat dilakukan adalah merupakan pilihan yang paling baik, kemudian daging tersebut disedekahkan,” ungkap fatwa itu.

Namun, tak menutup kemungkinan pada hari raya Idul Adha atau pada hari Tasyrik, para pedagang daging tidak berjualan. “Dalam keadaan seperti ini, kami cenderung boleh menjual kulit hewan kurban, kemudian hasil penjualannya itu yang disedekahkan. Kecenderungan ini didasarkan pada prinsip raf’ul-haraj (menghilangkan kesulitan),” demikian fatwa ulama Muhammadiyah.

Hal itu didasarkan pada hadis Nabi SAW, “Mudahkanlah dan janganlah mempersukar.” (HR Bukhari). Para ulama Muhammadiyah memutuskan, hasil penjualan kulit hewan kurban pun dapat digunakan untuk kepentingan umat, namun hal seperti ini dapat dilakukan setelah hak-hak fakir-miskin telah terpenuhi.

Berbeda dengan Muhammadiyah, ulama NU dengan tegas menyatakan, menjual kulit hewan kurban tidak boleh dilakukan, kecuali oleh mustahiknya yang fakir miskin. Sedangkan bagi mustahik yang kaya, menurut pendapat yang mu’tamad tak boleh. Ulama NU menyandarkan keputusan itu dari kitab Al-Mauhibah, jilid IV, halaman 697. “Tak boleh menjual bagian apa pun dari binatang kurban sunah, walaupun hanya kulitnya, sesuai hadis: ‘Barang siapa yang menjual kulit binatang kurban, maka ia tak memperoleh kurban apa pun’.” (HR Bukhari).

sumber: www.republika.co.id

Hasil Penelitian: Terbukti Muhammad Itu Ada!


Hasil Penelitian: Terbukti Muhammad Itu Ada!

Papyrus

Sejumlah ilmuwan kritis mengklaim, Muhammad tidak pernah ada. Dan Islam adalah ajaran yang muncul berabad-abad kemudian. Namun, setelah meneliti teks-teks papirus berbahasa Arab, Petra Sijpesteijn dari Universiteit Leiden membuktikan sebaliknya.

Bagaimana Islam muncul dan apa yang terjadi pada periode awal sejarah Islam? Sebelumnya, ilmuwan yang ingin tahu soal itu harus merujuk kepada versi sejarah Islam resmi yang baru disusun sekitar 200 tahun setelah Muhammad meninggal. Baru akhir-akhir ini muncul ketertarikan terhadap sumber-sumber yang lebih objektif, walaupun lebih sulit diakses – seperti koin, inskripsi dan teks-teks papirus.

Terutama teks papirus amat penting, kata Petra Sijpesteijn, guru besar bahasa Arab di Universiteit Leiden. “Papirus adalah satu-satunya sumber kontemporer mengenai 200 tahun pertama sejarah Islam.”

Pionir
Sijpesteijn adalah salah satu dari sedikit ahli (bahasa)Arab dengan spesialisasi dalam bidang penelitian teks-teks papirus berbahasa Arab. Belum lama ini ia menerima satu juta euro dari Lembaga Penelitian Eropa untuk meneruskan penelitiannya.

Papirus adalah sejenis kertas kuno yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari: mencatat transaksi komersial, korespondensi pribadi, dan semacamnya. Ribuan teks papirus ditemukan terkubur pasir di Mesir dan wilayah-wilayah Timur Tengah lainnya.

Menurut Sijpesteijn, teks-teks ini biasanya sulit  dimengerti, karena sebagian sudah hancur atau dibuat dengan tulisan yang sulit dibaca dan berbahasa dialek setempat. “Namun siapa pun yang bisa membacanya, punya akses meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat Arab di periode awal islam.”

Ilmu papirologi Arab masih amat muda. Baru sedikit dari ratusan ribu teks yang dipelajari. Toh sekarang, penganut islam sudah bisa menarik napas lega: menurut Sijpesteijn, data-data yang ditemukan mengkonfirmasi cukup banyak sumber resmi islam.

Tak Terorganisir
Sijpesteijn tak setuju dengan sekelompok kolega yang dijuluki para ‘revisionis.’ Mereka mengklaim bahwa nabi Muhammad tidak pernah ada. Orang-orang Arab sebenarnya cuma kelompok tak terorganisir yang kebetulan berhasil menguasai setengah dunia. Dan islam diduga baru diciptakan dua ratus tahun kemudian di Irak.

“Teks-teks papirus menunjukkan bahwa serangan tentara Arab dilakukan dengan cermat dan terorganisir. Orang Arab melihat diri sendiri sebagai penakluk dengan misi religius. Mereka ternyata juga punya pandangan religius – mereka menjalankan dan menjaga elemen-elemen penting islam yang nantinya juga dimiliki dan diyakini muslim pada abad-abad selanjutnya.”

Begitulah, menurut Sijpesteijn, tak lama setelah Muhammad meninggal, muncul perintah haji dan zakat. Ia juga menemukan papirus dari tahun 725 yang menyebutkan baik nabi Muhammad maupun islam.

Penaklukan Islam
Toh penemuannya tetap mengancam keyakinan sebagian muslim modern mengenai sejarah Islam. Dari sumber-sumbernya, misalnya, diketahui bahwa kemenangan Arab bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan unik seperti dikisahkan buku-buku sejarah islam.

Faktanya, tak banyak orang menyadari kemenangan Arab. “Di Mesir dan Suriah, misalnya, hampir tak ada yang berubah pasca kemenangan Arab. Hanya saja, pejabat-pejabat tertinggi mereka digantikan oleh orang Arab. Perlu waktu berabad-abad sebelum pengaruh bahasa Arab dan islam menyebar di masyarakat luas.”

Teks-teks papirus ini juga menyangkal gagasan banyak muslim modern bahwa Muhammad menyebarkan islam sebagai agama ‘siap-pakai.’ “Dari teks-teks ini terlihat bahwa islam perlahan-lahan berproses menemukan bentuknya pada abad-abad awal. Waktu itu, banyak sekali perdebatan mengenai makna menjadi seorang muslim.”

Haji
Juga ditemukan papirus yang menuliskan, ada perdebatan apakah zakat harus diwajibkan oleh negara atau cukup disumbangkan secara sukarela. “Pertanyaan besarnya: apa makna islam untuk orang-orang pada tahun 700? Apakah waktu itu sudah ada lima rukun islam dan perintah naik haji seperti yang kita kenal sekarang?”

 

Sumber: www.republika.co.id

Idul Adha 1431 H


Berikut Dokumentasi Prosesi Penyembelihan Hewan Qurban dan Prosesi Nyate di Lingkungan Al Ikhlas

 

foto: by ayad_densus84

Serunya menyisit kulit

Waduh..waduh.. berat juga ne kambing,,, cuape deh

Lurah Kampoeng Santri pun kembali mengomandoi prosesi pemulasaraan hewan qurban

Anak-anak kampoeng santri antusias "mengendarai" sapi

warga al ikhlas sibuk mencincang daging hewan qurban

dipotong truz...

Kepala-kepala kambing menjadi saksi orang-orang yang berqurban dengan mengharapkan keridhoan Alloh

Lurah pun turut andil jadi Tukang Sate Dadakan

Sate... (Makanan Favorit Barrack Obama)

Sate Anggur enak juga yaa...

Tapi, lebih enak sate yg ini...

Indahnya kebersamaan saat makan sate

Senyum ceria bersama para kambing

Siapakah Ulama?


سم الله الرحمن الرحيم. 

Orang yang paling takut kepada Allah adalah para ulama…
Ibarat lentera di tengah kegelapan malam, cahayanya sebagai penerang jalan, sehingga akan menghantarkan seseorang menuju keselamatan hingga tujuan. Namun jika cahayanya padam maka akan menjerumuskan seseorang terperosok ke dalam lubang, itulah ulama panutan umat…

Ulama merupakan orang yang telah Allah pilih sebagai penerus risalah nubuwah, mereka adalah pewaris para nabi yang akan membimbing umat menuju cahaya Allah. Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia sungguh telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Tirmidzi)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ini adalah kedudukan yang paling agung bagi orang yang berilmu. Para nabi adalah sebaik-baik hamba Allah, mereka mewariskan warisannya kepada generasi mereka, dan setiap yang diwariskan akan pindah kepada ahli waris, dan mereka adalah yang menempati kedudukan mereka (para nabi), tidak ada orang yang menduduki kedudukan para nabi kecuali para ulama. Maka mereka lebih berhak untuk mendapatkan warisan para nabi”.

Para salaf dalam mendudukkan para ulama dan masayikh sebagaimana penghormatan mereka kepada Rasulullah saw karena mereka adalah pewaris nabi, yaitu yang mewarisi ilmu dan sunnahnya.
Memang saat ini, banyak umat muslim yang terjebak dalam suatu kesalahan, yaitu antara ifroth (berlebihan) terhadap mereka sehingga tanpa sadar menyeretnya ke dalam kesyirikan, atau terlalu tafrith (meremehkan), sehingga menyebabkan enggan bahkan menolak kebenaran yang datang kepadanya.

Fenomena yang terjadi di masyarakat pada umumnya, mereka memandang bahwa orang yang kerap naik mimbar, sering ceramah, selalu menggunakan kopiah atau surban di kepalanya mereka itulah yang dianggap sebagai ulama, meskipun tidak jarang di antara mereka yang masih jauh dari nilai-nilai islam.
Tidakkah kita ingat perkataan Ibnu Mas’ud bahwa tidaklah dikatakan alim (berilmu) itu dengan banyaknya hafalan hadits, tetapi orang alim adalah yang khosyah-(rasa takut) nya kepada Allah tinggi.

Dr. Nasir bin Abdul Karim berkata, “Ulama adalah orang-orang yang mengetahui sekaligus memahami syariat Allah dan mengamalkannya, mereka mengikuti petunjuk al-qur’an dan as-sunnah serta salafus shalih”.

Antara Ulama Akherat dan Ulama Su’
Ulama adalah pewaris para nabi, tempat rujukan penyelesaian probematika umat serta sebagai tempat untuk menimba ilmu. Oleh karenanya seharusnya kita selektif dan berhati-hati dalam memilih mereka untuk kita jadikan rujukan dan tempat menimba ilmu. Karena tidak semua ulama itu memiliki orientasi akherat untuk memperoleh ridho Allah ta’ala. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengejar kemegahan dunia serta kedudukan di hadapan manusia, sehingga rela menjual ilmu mereka dengan harga yang murah. Mereka itulah kategori ulama su’ yang mesti kita jauhi.
Al-‘Alamah Ibnul Qayyim berkata, “Ulama su’ duduk di pintu-pintu jannah menyeru manusia dengan lisan lisan mereka dan menyeru manusia ke neraka dengan perbuatannya”.
Sedangkan ulama akherat adalah mereka yang tidak silau dengan gemerlapnya dunia, yang mereka harapkan hanyalah ridho Allah semata. Mereka adalah yang senantiasa ikhlas dalam berdakwah, hati-hati dalam berfatwa, mengamalkan ilmunya, zuhud terhadap dunia, tawadu’ serta tinggi khosyahnya kepada Allah ta’ala.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim dalam menghadapi golongan yang berani mengacuhkan para ulama? Pengacuhan terhadap para ulama sama saja dengan perremehan. Padahal, Setiap tafrith (peremehan) terhadap ulama berarti tafrith terhadap Rasulullah saw. Bukankah telah datang firman Allah ta’ala yang mengharamkan sikap peremehan terhadap harga diri dan martabat manusia secara umum, apalagi terhadap ulama dan Allah mengancam mereka dengan ancaman yang sangat keras. Rasulullah Saw bersabda;

مَنْ عَادَ لِيْ وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barang siapa memusuhi waliku, maka sesungguhnya Aku telah mengumumkan perang dengannya”. (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas berkata, “Barang siapa yang menyakiti ulama, maka sesungguhnya ia telah menyakiti Rasulullah saw dan barang siapa yang menyakiti Rasulullah saw maka sesungguhnya ia telah menyakiti Allah Ta’ala.”

Generasi salaf telah mencontohkan bagaimana bentuk hormat terhadap para ulama, namun fenomena yang terjadi hari ini berbeda jauh sekali, di mana banyak ulama yang masih hanif (lurus) -insya Allah- tidak lepas dari celaan dan dihujat serta dicap dengan sesuatu yang tidak semestinya. Dan yang membuat hati miris, ternyata hujatan dan celaan tersebut keluar dari lisan golongan tertentu tanpa merasa bersalah apalagi berdosa. Mereka dengan enteng menghujat para ulama hanya karena bukan satu golongan. Mereka menganggap bahwa kebenaran hanyalah milik golongannya saja, sedangkan selain mereka adalah golongan yang sesat yang pantas untuk dihujat Sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam ashobiyah (fanatisme) golongan.

Memang, zaman modern saat ini kerap merubah cara fikir atau cara pandang seseorang. Muslim sekalipun. Semakin maju suatu zaman, menandakan semakin maju pula cara fikir sesorang didalamnya. Namun disini, rasanya perlu ditekankan, bahwa ajaran syariat islam tak berubah meski seiring berkembangnya zaman. Tapi justru seharusnya, perubahan zaman yang seperti apapunlah yang harus tetap berpegang pada ajaran syariat islam yang bersumber dari Allah dan RasulNya.
Rasul Saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mencabut ilmu pengetahuan sekaligus sebagaimana mencabut nyawa manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila tidak ada lagi orang lain, maka umat manusia akan memilih pemimpin-pemimpin yang bodoh, ketika mereka ditanya, maka mereka memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan lalu mereka sesat menyesatkan. (HR. Bukhari Muslim).
Dan ini merupakan salah satu tanda akhir zaman,
Disinilah perlunya suatu pendekatan dakwah. Mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Memberikan kabar pada mereka betapa pentingnya peran ulama. Mengingatkan, bahwa mereka adalah pewaris para nabi, yang mewarisi ilmu dan sunahnya. Karena semaju apapun zaman, tak akan pernah bisa lepas dari peran para ulama.
Jika mereka,-golongan yang berani mengacuhkan para ulama-, mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya, taat pada perintahNya, mencintai Mereka, bagaimana mungkin mereka akan mengacuhkan para pewaris Nabi tersebut?
Dan Jika mereka menolak, dengan tetap tidak mengeksistansikan peran para ulama dan mengacuhkan mereka, maka tinggalkan! Rasul sendiri pun telah menyatakan perang pada kalangan yang memusuhi para walinya. Atau cukup adukan pada Allah SWT karena Rasulullah saw telah bersabda 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR Muslim dalam shohihnya. kitab Al Iman no 49]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta nasehat-menasehati dengan kebenaran dan dengan kesabaran” QS 103 (Al Ashr): 1-3.

Wallahua’lam
Moga Allah mengampuni setiap kesalahan ucapan dalam tulisan ini.

Sebuah Renungan …


YA ALLOH,,,

JADIKANLAH UMURKU YANG PALING BAIK SEBAGAI AKHIR PENUTUP USIAKU,

JADIKANLAH AMAL PERBUATANKU YANG PALING BAIK SEBAGAI AKHIR PENUTUP AMAL PERBUATANKU

DAN JADIKANLAH HARI YANG TERBAIK BAGIKU SEBAGAI HARI AKU BERTEMU DENGANMU.

Irsyadul ‘Ibad,,,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BARANGSIAPA BERBUAT DOSA LALU TERTAWA, DIA AKAN MEMASUKI NERAKA DENGAN MENANGIS

ASTAGHFIRULLOHAL ‘ADZIM…

Camilla Leyland, Guru Yoga yang Memutuskan Menjadi Muslimah


Namanya Camilla Leyland. Usianya kini 32 tahun. Bagi warga Cornwall, Inggris, Camilla sudah tak asing lagi. Ia memiliki sanggar yoga terbesar dan terkenal di kota itu, Camilla Yoga.

Namun tak banyak yang tahu, ibu dari seorang putri, Inaya, ini adalah seorang Muslim. Ia memutuskan untuk menganut Islam pada usia 20-an tahun.

Beda dengan pandangan Barat soal perlakuan Islam atas perempuan, ia justru tertarik mempelajari Islam karena alasan ini. Menurutnya, tak seperti pandangan banyak orang, Islam justru mendudukkan perempuan setara dengan laki-laki, dalam fungsi dan tugas masing-masing.

“Saya tahu, orang pasti akan terkejut mendengar kata “feminisme dan “Islam”. Namun jangan salah, dalam Alquran, wanita mempunyai kedudukan setara laki-laki dan ketika agama ini dilahirkan, perempuan adalah warga kelas dua dalam masyarakat misoginis,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang yang salah mendudukkan antara budaya dan agama. Di negara Islam, kebebasan wanita dikungkung mungkin benar, namun jangan salah juga, ketika saya tumbuh, saya juga merasa tertekan dalam kultur masyarakat Barat yang begini,” ujarnya. “Tekanan” yang dimaksudkan, adalah tuntutan sosial agar wanita berlaku sama dengan pria, dengan minum minuman keras dan seks bebas. “Tak ada artinya semua itu bagi saya. Dalam Islam, ketika Anda mulai menjalin hubungan, maka artinya adalah sebuah komitmen yang intens,” ujarnya.

Camilla besar dalam lingkungan kelas menengah Inggris. Ayahnya adalah direktur Southampton Institute of Education dan ibunya dosen ekonomi. Camilla mulai tertarik pada Islam sejak sekolah menengah.

Dahaganya akan pengetahuan keislaman agak terpuaskan ketelah ia masuk universitas, yang dilanjutkan dengan meraih gelar master untuk bidang studi Timur Tengah.

Pencerahan datang saat ia tinggal dan bekerja di Suriah. Ia makin tertarik pada Islam setelah membaca terjemah Alquran. “Saya tertarik untuk menjadi mualaf,” ujarnya.

Keputusannya menganut Islam membuat teman-teman dan keluarganya heran. “Sulit bagi mereka untuk memahami seorang yang terpelajar, berasal dari kelas menengah, dan berkulit putih pula, memutuskan untuk menjadi Muslim,” ujar Camilla.

Ia sempat mengenakan jilbab, namun kini dia tampil tanpa jilbab. Namun ia mengaku makin mantap dengan islam dan tak pernah melalaikan shalat.

Ia bersyukur menemukan Islam. Ia bercerita, makin kuat tekadnya memegang teguh agamanya saat menghadiri ulang tahun temannya di sebuah bar, saat itu ia tampil perjilbab.

“Saya berjalan, dengan jilbab dan pakaian rapat saya, melihat semua mata menatap saya dan beberapa yang mabuk mengucapkan kata-kata tak senonoh atau menari secara provokatif. Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan masa lalu saya dengan sebelah mata dan saya tahu, saya tak akan pernah ingin kembali pada kehidupan semacam itu,” ujarnya.

Ia menyatakan beruntung menemukan “rute penyelamatan diri”-nya, Islam. “Ini saya yang sesungguhnya: saya bahagia berdoa lima kali sehari, dan mengikuti pengajian di masjid. Saya tak lagi menjadi budak dari masyarakat yang rusak,” ujarnya.

Sumber: www.republika.co.id

Pasien Perempuan Muslim tak Nyaman dengan Dokter


Para dokter di Amerika Serikat sepertinya bakal menyesuaikan diri dengan kepercayaan yang dianut Islam dan nilai-nilai yang dikembangakannya guna menjaga psikologi dan hubungannya dengan para pasien muslim. Demikian terungkap dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, Rabu (10/11).

Hasil tersebut, kemungkinan dapat menjadi penting mengingat populasi muslim di Amerika terus mengalami peningkatan hampir 7 juta penduduk. “Perempuan akan mengatakan, ‘Saya membatalkan diri berobat karena saya tidak dapat menemukan kenyamanan yang diterima sebagai seorang perempuan. Mereka menginginkan saya untuk melepaskan baju, jelas saya tidak merasa nyaman,” ujar peneliti utama Aasim Padela.

Padela merupakan seorang muslim lulusan dokter Universitas Michigan. Ia juga merupakan peneliti tamu di Pusat Studi Islam Universitas Oxford, Inggris di London. Padela mengatakan, pihaknya tidak dapat menilai bagaimana preferensi untuk dokter jenis kelamin yang sama dan kecemasan tentang baju rumah sakit, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan tanpa ada perbedaan antara muslim dan agama lainnya.

Ia mengakui bahwa hal tersebut sepertinya sulit. Sebab, biodata para pasien selalu merujuk pada etnis ataupun keterununan lainnya dan bukan berdasarkan agama tertentu. Dalam Jurnal Etika Medis, Padela dan Koordinator Pembimbing Pablo Rodriquez del Pozo, pengajar Etika Medis di Pusat Kesehatan, Universitas Cornell di Doha Qatar, mengungkapkan bahwa seorang perempuan yang mengenakan jilbab, datang ke UGD untuk memeriksakan kakinya yang sakit usai jatuh. Kemudian, perempuan tersebut menanyakan apakah ada seorang dokter perempuan.

Merujuk pada Bioetika Islam, pertama, pasien muslim dapat memilih dokter yang seagama atau sejenis dengannya. Kedua, dapat memillih dokter yang berbeda agama, tapi yang sesama jenis. Kemungkinan persepsi yang akan diterima pasien adalah ketidaknyaman. Dan seharusnya dokter dapat menghilangkan rasa kekhawatiran tersebut, ujar Pandela. Ia juga menuturkan, pasiden dan dokter dapat membuat semacam kesepakatan, yakni perawat perempuan yang melakukan pemeriksaan, sementara sang dokter melakukan observasi atas penyakit yang diderita pasien.

Sumber: www.republika.co.id