KONTROVERSI HUKUM CELANA DAN SARUNG DI BAWAH MATA KAKI (ISBAL)


Abah Isbal ngangkat sarung

APA ITU ISBAL ???

Isbal adalah memanjangkan kain (sarung, celana atau gamis, dsb) di bawah mata kaki.

BAGAIMANA HUKUMNYA ?

Nah, disinilah letak permasalahannya. Hukum mengenai masalah ini menjadi perdebatan yang tiada hentinya oleh kaum muslimin sendiri, bahkan masalah ini menjadi masalah yang sepertinya dijadikan hujjah untuk menjatuhkan saudara sesama muslim. Beberapa kelompok sibuk mencari dalil tentang isbal ini untuk menyerang kelompok muslim lainnya.

Dapat dipahami bahwa masalah isbal ini bisa menjadi sangat rumit jika saudara-saudara sesama kurang bijak dalam mensikapi ikhtilaf para ulama dalam menetapkan hukum isbal ini.

Dapat dikemukakan ikhtilaf para ulama mengenai masalah isbal yaitu:

1) Pendapat Ulama yang mengatakan Mutlak Haram.

Ada beberapa ulama yang memberi bahwa isbal itu hukumnya mutlak haram, tidak perduli isbal dilakukan dengan riya’ ataupun tidak, ulama-ulama tersebut mengutip hadist :

“Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka ” (HR Bukhari)

“Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

2) Pendapat Ulama yang mengatakan Haram jika diiringi Riya’.

Beberapa ulama yang memberi fatwa bahwa isbal haram jika diiringi dengan Riya’, mengutip hadist berikut :

Ucapan Nabi SAW kepada Abu Bakar As Shiddiq ra. ketika berkata: Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda : “Engkau tidak termasuk golongan orang yang melakukan itu karena sombong.” [HR Bukhari dan Muslim].

Ulama yang memberikan yang fatwa kedua ini salah satunya adalah Imam Nawawi. Imam Nawawi merupakan pengarang kitab mashur Riyadh As-Shalihin dan kitab Syarah (penjelasan) Shahih Muslim. Beliau adalah pengikut Madzhab Imam Syafi’i. Diantara pendapat Imam Nawawi mengenai isbal sebagai berikut :

Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a’lam.

Dan Khuyala’ (orang yang saat itu memanjangkan pakaiannya) adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, “Kamu bukan bagian dari mereka.” Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

BAGAIMANA MENYIKAPINYA ?

Perlu penyamaan persepsi masalah isbal adalah merupakan ikhtilaf para ulama dan bukan masalah yang disepakati oleh semua ulama (qath’i), demikian realitasnya. Pendapat dari ulama manapun patut kita hormati, kita dapat mencontoh perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i dalam memberi fatwa mengenai qunut shalat subuh. Imam Malik berpendapat bahwa qunut sholat subuh adalah Bid’ah, sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa qunut shalat subuh adalah Sunnah Muakkad yang apabila tidak dilakukan harus diganti dengan sujud syahwi.

Kedua ulama ini tidak saling mengklaim bahwa mereka yang paling benar atau menuduh salah satu dari mereka kafir atau sesat. Karena kapasitas dan keilmuan kedua ulama tersebut, maka tindakan dan perkataan mereka pun sangat bijak. Dikisahkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengimami shalat subuh para murid Imam Malik, maka saat itu Imam Syafi’i meninggalkan Qunut Shalat subuh.

Hal inilah yang patut dicontoh oleh umat muslim saat ini, daripada kita berdebat terhadap hal yang tidak ada habis-habisnya yang merupakan ikhtilaf ulama sampai saat ini dan saling menjatuhkan, lebih baik kita mempererat persaudaraan dan bersatu padu mengumpulkan kekuatan dalam membentengi umat dari musuh-musuh islam yang sebenarnya,

Wallohu a’lam bi murhodhi bi dzalik.,

….. Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir…… (QS Al-Maidah/5 : 54)

Ingatlah, dalam disiplin ilmu Tasawuf, seseorang tidak dapat menuduh orang lain (sesama muslim) kafir dan pasti masuk neraka walaupun kita bisa melihat tanda-tandanya dan “bunyi” di dalam hati kita ini sama halnya dengan merampas hak prerogatif Allah Swt. Karena, ini bisa dikategorikan riddah (murtad) atau keluar dari Islam secara lisan (ucapan). Na’udzubillah!.

Wallahu a’lam.


fazrinfauzia.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s